By: Syafirurrizal El M. (308)

Sebelum itu saya jelaskan dahulu tentang definisi dari perkembangan teknologi komunikasi.  Definisi perkembangan teknologi komunikasi menurut hasil pengamatan saya adalah perubahan secara nyata pada manusia yang berlangsung secara revolusi dalam hal penyampaian pesan (komunikasi) melalui hasil-hasil karya manusia yang disebut teknologi. Jika diteliti ulang, maka kita telah mengalami perkembangan teknologi komunikasi secara pesat, mulai dari yang umum seperti lukisan manusia primitif, ukiran pada bangsa sumeria, hieroglif pada mesir kuno, sistem burung merpati pada kerajaan yunani, penemuan kertas untuk menulis dari cina, mesin cetak Johannes Gutenberg, telepon yang ditemukan Alexander Graham Bell, Morse dengan kode Morsenya, radio hasil temuan Marconi, televisi,  komputer dengan besar segudang, hingga zaman kita sekarang yang bertaburan dengan dunia maya, ponsel, laptop dan juga alat canggih lainnya. Tetapi, kita banyak yang tidak sadar telah mengalami missing theory pada perkembangan ini. Ternyata ada jenis teknologi komunikasi yang hilang dalam masyarakat dunia dan mulai dari tiga puluh tahun lalu telah dilakukan penelitian secara besar-besaran. Dan, kita sebagai bangsa Indonesia lagi-lagi tidak peduli dengan itu, hanya berpikir hidup enak saja dan apatis yang terus up to date masalah teknologi baru dan tidak memikirkan perjalanan teknologi itu sendiri.

Dalam sejarah perkembangan teknologi komunikasi, lari marathon yang sekarang dipakai sebagai ajang lomba juga merupakan sebuah perkembangan teknologi komunikasi. Dan pada tahun 2005 (masih termasuk perkembangan terbaru, karena masuk dalam revolusi sejarah perkembangan teknologi komunikasi) Prof. Arysio Santos dari Brazil telah menemukan Benua yang hilang yaitu Atlantis. Beliau menerangkan dalam bukunya yang berjudul “Atlantis, The Lost Continent Finally Found” bahwa dalam benua atlantis terdapat bangsa atlantis yang mempunyai peradaban tinggi dan berbasis teknologi paling mutakhir, dalam buku itu juga dijelaskan bagaimana masyarakat atlantis membuat sebuah teknologi komunikasi yang sungguh berbeda jauh dengan era kita sekarang yang ditaburi oleh barang-barang canggih. Teknologi komunikasi pada bangsa atlantis tersebut telah melampaui teknologi kita, dan telah menemukan teknologi komunikasi berupa teleportasi, musik, budaya, dan situs (yang sekarang terpendam dalam bawah bumi, tetapi masih ada sisa jejak). Bagi saya itu adalah merupakan perkembangan teknologi komunikasi yang hilang, meskipun pada zaman sekarang ada segelintir orang di dunia yang menggunakan musik dan situs sebagai komunikasi antar sesama. Berikut ini akan saya jelaskan tentang perkembangan teknologi komunikasi pada zaman Imperium Persia dan zaman Atlantis.

Perkembangan Teknologi Komunikasi Pada Zaman Imperium Persia

Adalah suatu perkembangan teknologi komunikasi yang sangat unik tetapi menjadi cikal bakal perlombaan sedunia yaitu, Marathon.

Dalam sebuah acara TV internasional (yang disiarkan oleh Metro TV) yang berjudul The War And Civilizations: History of Greek (Greece Empire) menceritakan; “bahwa saat itu ada seorang pengirim surat perang yang bernama Pheidippides, Ia berlari dari kota Marathon menuju ke Athena untuk mengumumkan pada warganya bahwa mereka telah memenangkan perang terhadap Persia dalam perang Marathon pada tahun 490 SM. Pheidippides berlari tanpa henti sejauh 26 mil atau 42.195km. setelah menyampaikan kabar kemengannya, iapun tewas karena keletihan. Pada saat perang Marathon terjadi, tentara Persia yang dipimpin oleh Darius I datang dengan kekuatan besar, dan tentara Athena yang dipimpin oleh Miltiades hanya berjumlah ratusan. Namun, berkat kepiawaiannya, Miltiades mampu mengembangkan strategi perang kilatnya dan mampu memenangkan perang dengan menelan korban dari Persia sebanyak 6400, dan Athena 192. Sebelumnya, Pheidippides bertugas untuk menyampaikan pesan ke Sparta untuk meminta bantuan, ia berlari selama dua hari sebanyak 240 km namun ditolak, sehingga terpaksa dibantu oleh Platea yang juga mempunyai pasukan sedikit. Dan pada umumnya, pada waktu itu para pengirim surat mengirim surat dengan berlari sejauh 32 km”.

Dalam sebuah acara TV internasional (yang disiarkan oleh Metro TV) yang berjudul The War And Civilizations: History of Greek (Greece Empire) menceritakan; “bahwa saat itu ada seorang pengirim surat perang yang bernama Pheidippides, Ia berlari dari kota Marathon menuju ke Athena untuk mengumumkan pada warganya bahwa mereka telah memenangkan perang terhadap Persia dalam perang Marathon pada tahun 490 SM. Pheidippides berlari tanpa henti sejauh 26 mil atau 42.195km. setelah menyampaikan kabar kemengannya, iapun tewas karena keletihan. Pada saat perang Marathon terjadi, tentara Persia yang dipimpin oleh Darius I datang dengan kekuatan besar, dan tentara Athena yang dipimpin oleh Miltiades hanya berjumlah ratusan. Namun, berkat kepiawaiannya, Miltiades mampu mengembangkan strategi perang kilatnya dan mampu memenangkan perang dengan menelan korban dari Persia sebanyak 6400, dan Athena 192. Sebelumnya, Pheidippides bertugas untuk menyampaikan pesan ke Sparta untuk meminta bantuan, ia berlari selama dua hari sebanyak 240 km namun ditolak, sehingga terpaksa dibantu oleh Platea yang juga mempunyai pasukan sedikit. Dan pada umumnya, pada waktu itu para pengirim surat mengirim surat dengan berlari sejauh 32 km”.

Bisa dibayangkan bahwa pada zaman Imperium Persia, teknologi komunikasi menggunakan kemampuan alami pada manusia yaitu berlari. Mereka mengirimkan pesan, mengumumkan pada Raja dan warganya, dan umumnya mereka mengumumkan tentang perang, ekonomi pada suatu kota, dan kejadian bencana alam. Hingga sampai menimbulkan korban, namun itu membuat banyak manusia mengerti, mengagumi, dan mempelajari tentang perkembangan teknologi komunikasi untuk era selanjutnya. Dan menurut saya, ini adalah suatu sejarah perkembangan teknologi komunikasi yang paling menakjubkan dan sekaligus paling banyak menanggung resiko karena mereka berjuang demi Negara sebagai komunikator.

Perkembangan Teknologi Komunikasi Pada Zaman Atlantis

                        Banyak orang percaya bahwa benua dan kerajaan Atlantis adalah hanyalah sebuah mitos yang diceritakan oleh Plato (427-347 SM). Atlantis (12000-9500 SM) adalah sebuah kerajaan yang sangat maju namun mengalami try and error Theoric atau teori sapu jagad dari adzab Allah SWT berupa banjir yang sangat besar melebihi tsunami terbesar pada kota Platea disusul gempa yang maha dahsyat dan gunung meletus yang sangat besar. Dikarenakan karena masyarakat Atlantis adalah masyarakat yang arogan, ambisius, haus kekuasaan dan haus peperangan. Negeri ini hancur dalam waktu sehari semalam, dan ketika itu hendak menghancurkan Athena Kuno.

Plato sendiri menyatakan bahwa Atlantis merupakan peradaban dengan teknologi paling mutakhir dan pusat kebudayaan yang tinggi.

Dalam catatan Plato yang berjudul Timaeus menceritakan: “Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.”

Plato mempunyai dua buku yang menceritakan tentang Atlantis yang berjudul Critias dan Timaeus. Dalam catatan Plato yang berjudul Timaeus menceritakan: “Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.”

Lalu seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, para peneliti melakukan penelitian sebanyak-banyaknya. Dan ada salah satu peneliti professional yang berani menyatakan bahwa Atlantis itu adalah NKRI kita ini. Peneliti itu bernama Profesor Arysio Nunes Dos Santos (Prof. Arysio Santos) dari Brazil, dan beliau menemukan bukti-bukti fisik geologis, geografis, dan juga fisikologis.

Menurut Hasil Geologis dan Geografis, Prof. Santos mengatakan “ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat. Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari spesies mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon. Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia”.

Beliau juga mengatakan “Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.

Dan beliau mengatakan: “Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani)”.

“Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa. Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan. Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene)”.

Menurut Hasil Geologis dan Geografis, Prof. Santos mengatakan “ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat. Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari spesies mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon. Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia”.

Beliau juga mengatakan “Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.

Dan beliau mengatakan: “Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani)”.

“Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa. Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan. Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene)”.

Prof. Santos Juga mengatakan dalam bukunya yang berjudul “Atlantis, The Lost Continent Finally Found” bahwa: “Atlantis adalah suatu peradaban maju yang melampaui kemajuan zaman kita sekarang, hingga mampu membuat bahan bakar dari Kristal, dan teleportasi yang bagi kita adalah hal yang mustahil. Dan system komunikasi mereka sudah bukanlah buku, tetapi merupakan budaya mereka, situs mereka, teleportasi mereka dan juga seni music mereka”.

Pernyataan Prof. Santos membuat gempar seluruh dunia, tapi masih sedikit orang Indonesia yang mengetahui hal ini. Dalam bukunya, Prof. Santos mengatakan bahwa: “Atlantis adalah suatu peradaban maju yang melampaui kemajuan zaman kita sekarang, hingga mampu membuat bahan bakar dari Kristal, dan teleportasi yang bagi kita adalah hal yang mustahil. Dan sistem komunikasi mereka sudah bukanlah buku, tetapi merupakan budaya mereka, situs mereka, teleportasi mereka dan juga seni musik mereka”.

Dari sini bisa kita lihat bahwa Atlantis adalah sebuah peradaban yang sangat maju dengan tingkat teknologi yang sangat maju pula. Ada pula bukti-bukti perkembangan teknologi komunikasi Atlantis yang masih belum hilang sampai sekarang, dan bahkan dijadikan sumber budaya asli kita dan ciri khas Negara kita seperti:

  1. Musik Dangdut (Koplo dan Original) (menceritakan tentang kehidupan mereka, mulai dari gaya hidup hingga sifat mereka).
  2. Tarian-tarian daerah Negara kita (menyampaikan tentang suatu kisah penting dalam suatu wilayah atau kota).
  3. Bentuk, tatanan, atau situs dari Borobudur (meniru sistem pertanian terasering kita).

Lalu, bagaimana cara menggunakan teknologi tersebut? Pada waktu itu teknologi komunikasi terutama seperti musik adalah sebagai komunikasi jarak jauh sama seperti fungsi ponsel saat ini. Namun mereka mempunyai teknologi yang disebut TFI (Tone For Communication), yaitu alat pembuat nada dari setiap orang yang saling berkomunikasi lewat alat tersebut sehingga menciptakan lagu atau musik sendiri yang mempunyai arti sendiri bagi personal maupun orang banyak.

Namun, pada hieroglif piramida Mesir menggambarkan sebuah helicopter dan pesawat teknologi tinggi. Dan telah menjadi sebuah controversial masyarakat dunia. Hingga akhirnya banyak orang yang bilang bahwa itu adalah hasil dari keisengan orang dengan merubah hieroglif tersebut. Namun telah diteliti kembali bahwa itu bukanlah hasil tangan usil orang, melainkan adalah sisa warga Atlantis yang selamat dari Try And Error dan berpencar keseluruh penjuru dunia melalui teknologi teleportasi yang tersisa lalu menyesuaikan dan menggabungkan diri dengan masyarakat sekitar, contohnya mesir.

dan sampai sekarang Atlantis disebut sebagai “Mother of all civilization”, karena semua budaya berawal dari Atlantis yang menyebar ke seluruh penjuru dunia terutama Asia-Afrika.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

The War And Civilizations: History of Greek (Greece Empire).

Santos, Arysio. “Atlantis: The Lost Continent Finally Found”, Ufuk Press, Jakarta Selatan, 2010

About 1kom

Nggaplek i....!! ok,ok,ok...???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s